Dreamer






Perempuan mungkin tak mampu untuk turun langsung ke medan jihad. Namun dari rahimnya bisa lahir seorang mujahid.
Perempuan mungkin tak bisa menjadi seorang ulama. Namun dengan keshalihannya, ia bisa mendidik putranya hingga kelak bisa menjadi ulama.
Pun mungkin seorang perempuan tak harus bersuara lantang di atas mimbar. Namun dengan doa dan didikannya, anak-anaknya kelak bisa menjadi seorang pendakwah yang ceramahnya selalu didengar.

Mujahid-mujahid kecil, para calon ulama, juga calon pemimpin bangsa, posisi itu memang identik diperankan oleh seorang lelaki. Tetapi ketika seorang perempuan melahirkan seorang putri, bukan berarti pupus harapan untuk bisa membangun negeri. Justru ia melahirkan kunci peradaban selanjutnya. Sebab putri yang lahir itu juga yang kelak akan menjadi calon ibu, calon guru, calon madrasah yang nomor satu. Yang kemudian dari rahimnya akan lahir lagi putra-putri yang akan menjadi penerus generasi.

Wanita maupun laki-laki. Semua manusia diciptakan untuk beribadah dan menjadi khalifah Allah di bumi. Semua menjalankan peran masing-masing.

Ketika dalam pikiranku terlintas kata 'Indonesia', 'peradaban', atau 'masa depan', aku selalu menilik diri, kira-kira peran apa yang bisa kumainkan di negeri ini.

Dulu aku pernah ingin menjadi seorang presiden, pemimpin nomor satu di Indonesia. Aku ingin menyelesaikan segala problema yang menimpa negara. Aku ingin memakmurkan seluruh masyarakat dalam segala lini di bangsa ini.

Aku pernah ingin menjadi seorang duta besar yang mewakili negara. Aku ingin membawa nama Indonesia menjadi harum mewangi di segala penjuru dunia. Lalu aku akan dengan mudah berkeliling dari negara satu ke negara lainnya.

Aku pernah ingin menjadi seorang dokter yang mengerahkan diri untuk berperan dalam bidang kesehatan. Aku ingin mewujudkan Indonesia yang sehat. Aku tidak ingin orang-orang yang sakit bertambah parah sakitnya karena memikirkan mahalnya biaya pengobatan. Kemudian aku menjadi relawan bencana dan menolong banyak orang.

Bahkan aku pernah ingin menjadi seorang penggerak pemuda Indonesia untuk menyusun strategi demi membebaskan Al-Aqsa. Atau menjadi relawan yang menjadi angin segar untuk para korban kekejaman israel di Palestina.

Aku pernah ingin menjadi seorang ini dan itu, sehingga akan bisa begini dan begitu. Ah, banyak sekali impian-impian yang berseliweran dalam kepalaku. 

Namun pada akhirnya, lama kumematut diri. Impian bukan hanya tentang profesi. Impian terbaik adalah yang dengannya kita bisa meraih Ridho Allah. Impian yang tidak hanya sekadar untuk ambisi duniawi.

Aku menilik kembali 100 impian yang tertulis rinci dalam catatan pribadi, mengoreksi lagi bagian mana yang perlu diperbaiki. Pelan tapi pasti, kugaris bawahi salah satu mimpi yang berbunyi: "Memberikan anak-anak terbaik untuk negara. Anak-anak generasi rabbani yang kelak menjadi pembela agama dan pemimpin bangsa, anak-anak generasi qurani pembebas Al-Aqsa."

Aku tersenyum simpul saat penaku sampai pada titik di akhir kalimat. 

Jadi, bagaimana? Kapan kamu menjemputku untuk mewujudkan impian itu, sayang?


Bumi Allah, 20 Jumadil Akhir 1442 H.

Komentar

Postingan Populer