Review Buku: ON
Pertama kali saya mengenal buku ON karya Pak Jamil Azzaini adalah ketika acara Learning Camp di Bandung tahun 2020. Saat itu, salah satu pemateri mengulas dengan detail segala prinsip yang ada dalam buku ini, sekaligus memberi tugas pada para peserta untuk merenungi visi dunia dan akhirat kita masing-masing serta menanyakan pada diri sendiri "di dunia, kita ingin dikenal sebagai apa?". Seketika itu juga saya menjadi termotivasi dan penasaran ingin membaca bukunya. Berbekal dari rasa penasaran itulah akhirnya saya membeli buku ini. Ya, walaupun baru bisa membeli setahun setelahnya di toko buku Gramedia, Semarang.
Pak Jamil Azzaini adalah seorang pembicara publik, trainer, dan bahkan dijuluki oleh rekan-rekannya sebagai Inspirator SuksesMulia. Ia mulai berkecimpung dalam dunia training profesional saat ia masih menjabat sebagai Direktur Dompet Dhuafa Republikatur pada tahun 2004. Tak hanya di Indonesia, Pak Jamil juga memberikan training atau seminar di luar negeri yaitu: Malaysia, Filipina, Hongkong, Brunei Darussalam, Singapura, Makau, dan Jepang. Selain sebagai seorang trainer, ia juga merupakan seorang penulis yang konsisten menulis tema tentang karakter building, salah satunya ialah buku yang saat ini saya pegang.
Buku ON memaparkan tentang prinsip MOVE ON dengan cara menekan tombol 4 ON. Yaitu: Visi-ON, Acti-ON, Passi-ON, dan Collaborati-ON. Visi sama dengan niat, visi yang kita tetapkan dalam hidup akan mempengaruhi hormon-hormon dalam tubuh kita sehingga otak pun akan selalu berpikir bagaimana cara mewujudkan visi tersebut. Namun, memiliki visi atau mimpi besar sekalipun belum tentu akan membuat hidup kita selalu bersemangat, bila visi atau mimpi itu hanya tentang diri kita sendiri. Dalam bukunya yang berjudul ON ini, Pak Jamil menuliskan, "...seyogianya mimpi itu harus punya nilai atau value yang diperjuangkan. Mimpi itu bukan hanya berbicara tentang 'aku', tapi juga 'kita'. Apa artinya? Mimpi itu harus memberi manfaat untuk diri pribadi sekaligus untuk orang-orang di sekitar kita."
Setelah menemukan visi, tekan tombol ON yang kedua yaitu dengan melakukan aksi (Acti-ON) sesuai dengan visi yang kita tentukan. Aksi meliputi kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Yakni tentang apa sebenarnya yang kita targetkan sampai nanti waktu berpulang tiba. Kerja keras yaitu usaha yang kita lakukan dari sekarang dalam mewujudkan visi. Kerja cerdas yaitu kita melibatkan orang lain untuk mensupport mimpi kita. Setelah ikhtiar dan doa, kerja keras dan kerja cerdas telah dilaksanakan secara maksimal sesuai kemampuan kita, maka bagaimanapun hasilnya, kita serahkan pada Allah SWT.
Misalnya; seorang remaja yang berkeinginan untuk kuliah, lalu akhirnya masuk universitas atau tidak, visi dunia dan akhirat harus tetap diwujudkan. Karena yang berubah adalah jalannya, bukan tujuannya. Untuk mencapai semua target, mimpi, juga visi seseorang tidak hanya di satu tempat. Banyak jalan lain, banyak tempat lain yang bisa kita pilih. Di alam kubur pun, kita tidak akan ditanya "lulusan universitas mana?". Sebab segala kemewahan di dunia hanya bersifat sementara. Salah besar jika seseorang merasa besar dan sombong karena masuk kampus terbaik (menurut dunia) atau mendapat gaji berjuta-juta setiap bulan. Karena itu tidak ada artinya jika diri kita bersikap sombong dan tidak bermanfaat untuk orang lain.
Selanjutnya adalah tombol Passi-ON, yaitu menemukan hal terbaik dari diri kita. Menemukan sesuatu yang saat melakukannya kita menjadi tak kenal waktu karena saking sukanya. Sama halnya seperti kita mencintai pasangan, kita senang dan semangat ketika melihatnya, selalu ingin bertemu dan setia padanya. Passion lebih dari sekadar hobi. Dengan menemukan hal terbaik dari dalam diri (passion), kita bisa memulai langkah untuk mewujudkan visi dunia dan akhirat kita.
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Maka langkah selanjutnya setelah menemukan passion yaitu dengan kolaborasi (Collaborati-ON), menjalin kerjasama dengan orang lain, atau bisa disebut sebagai success partner. Jika berbicara tentang kolaborasi, orang pertama yang paling mendukung untuk mewujudkan visi kita tentunya adalah pasangan halal. Kunci partner adalah satu frekuensi, dan frekuensi dilihat dari visi. Itulah kenapa visi misi antara dua orang yang akan menikah harus sama. Akan tetapi perlu digarisbawahi, bagi kita yang belum memiliki pasangan, tentu dapat pula berkolaborasi dengan teman, sahabat maupun keluarga yang menurut kita cocok untuk dijadikan partner.
Terakhir adalah Conclusi-ON. Setelah kita menekan tombol-tombol ON di atas, maka waktunya untuk menikmati proses. Ketidaksabaran kita terhadap proses bisa membuat kita terjerumus ke dalam hal-hal yang sangat merugikan. Bahkan para Nabi pun tidak dinilai dari hasilnya, tetapi dari proses yang dijalani. Maka nikmatilah setiap proses yang dilalui. Lelah itu pasti ada, mengambil jeda istirahat sebentar saja, selanjutnya kita harus tetap melangkah. Meski pelan, tapi tidak berhenti. Seperti kata pepatah: "Tidaklah beristirahat seorang muslim, kecuali kakinya telah menginjak surga." Maa Syaa Allah:).
Yang saya suka dari buku ini adalah bahasanya yang formal namun tidak membosankan, karena ada bumbu-bumbu candaan di dalamnya. Studi kasus yang disajikan dalam buku ini juga berhasil menarik perhatian pembaca, tentunya dengan tak lupa Pak Jamil menelaah dan memberi poin penting apa saja yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan. Buku ON sungguh memberi makna tersendiri bagi saya, sehingga tak lupa juga saya rekomendasikan pada teman-teman yang bertanya terkait buku bacaan.
Jadi, bagaimana sahabat pembaca yang budiman? sudah siap Move-ON? Hehehe.
Bumi Allah, 25 Rajab 1443 H.


Komentar
Posting Komentar