Syukur
Kemarin, aku dihubungi oleh seorang teman. Lebih tepatnya adik kelas. Ia meminta waktuku untuk belajar bersama dengan teman-temannya yang lain. Diantara mereka ada yang selisih satu tahun denganku, ada pula yang lima tahun dibawahku.
Aku sudah membalas pesannya untuk menunggu terlebih dahulu, sebab saat itu kebetulan aku sedang memasak (masak air 😁) jadi mana mungkin aku tinggal begitu saja.
Tapi rupanya karena mereka tidak mau menunggu, atau mungkin aku yang terlalu lama membuatnya menunggu, akhirnya salah satu dari mereka menjemputku.
Setibanya di tempat 'belajar bersama' itu, aku malah disuguhi beberapa lembar soal. Ya, namanya juga belajar bersama. Jadi soal-soalnya milik bersama. Hehe. Apa pun itu, aku senang berada di antara mereka.
Di tengah pembahasan, mereka mengeluhkan kegiatan belajar online.
"Pusing teh, pengen nangis,"
"Nggak ngerti ini disuruh apa, ih pengen belajar langsung aja,"
"Nggak ada uang buat beli kuota,"
"Susah sinyal!"
Dan seputar curhatan lain yang hampir sama.
Aku menanggapi dengan senyuman, berusaha menghibur mereka dengan kata-kata yang kubisa.
Singkat cerita. Satu per satu dari mereka sudah selesai dengan masalah tugasnya. Tapi ada satu anak yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan, tanpa bertanya atau bicara. Anak itulah yang menjemputku tadi.
Saat kutanya apakah ada tugas yang sulit, dia menjawab, "aku nggak lanjut sekolah, teh," sontak aku kaget mendengarnya.
Lalu kutanya apa alasannya, dia menjawab lagi, "karena belajarnya pakai HP, aku nggak punya HP, ibu nggak punya uang buat beli HP,"
Deg...
Aku mencoba menyembunyikan ekspresi keterkejutanku. Lalu mengatakan sesuatu yang semoga membuatnya merasa lebih baik. Meski aku bukan siapa-siapa, tapi aku prihatin mengetahui fakta bahwa ada seorang anak yang tidak melanjutkan pendidikan hanya karena tidak memiliki gadget. Padahal, dulu saat awal aku masuk SMP, aku juga belum punya gadget.
Memang, sekarang situasi dan kondisinya berbeda. Kalau saja aku tahu lebih awal, mungkin aku akan berbicara pada ibunya. Setelah itu mungkin dia bisa tetap melanjutkan jenjang pendidikan sekolah menengah pertamanya. Mungkin, mungkin, dan kemungkinan lainnya.
Melihat matanya yang begitu berkeinginan melanjutkan sekolah, melihat bicaranya yang terlihat tegar dan sabar, melihat raut wajahnya yang tanpa sedikitpun menunjukkan rasa iri pada temannya yang lain. Aku merasa tertampar. Betapa sedikit rasa syukurku yang terucap atas nikmat bersekolah yang Allah beri. Dan betapa banyak keluhan yang terlontar atas tugas-tugas yang tak seberapa dibandingkan dengan nikmatnya kesempatan belajar di sekolah, diajarkan oleh guru, juga bertemu kawan baru.
Ini baru di tempat tinggalku, bagaimana dengan anak-anak di luar sana?
Entah berapa banyak anak yang tak berkesempatan mengenyam pendidikan karena kendala tertentu. Dan, entah berapa banyak anak pula yang menyia-nyiakan kesempatan belajarnya untuk bermain tanpa kenal waktu. Padahal, tidak semua anak bisa berkesempatan mengenakan seragam sekolah, menggendong tas baru, juga menenteng buku.
Allaah...
Semoga anak yang kuceritakan ini, dan anak-anak lain di luar sana yang belum berkesempatan melanjutkan pendidikan, semoga mereka diberi hati yang ikhlas. Tidak menyerah atas apa yang terjadi, dan suatu saat bisa sama-sama merasakan kenikmatan belajar di sekolah. Semoga kelak mereka tumbuh sukses di dunia dan akhirat. Karena Allah pasti akan memberikan jalan terbaik untuk mereka. Aamiin.
Sahabat pembaca yang baik hati,
Akhirnya sampailah kita pada satu pertanyaan yang perlu kita renungi.
"Sudahkah kita bersyukur hari ini?"
Bumi Allah, 2 Zulhijah 1441 H.



Masyaa Allah :)
BalasHapusuwwuu terhuraa akuuu:))
BalasHapusTerimakasih untuk pengalamannya yang bisa untuk berkaca.🤗
BalasHapusTerima kasih kembali :)
HapusYa allah,teh olip ngena banget��
BalasHapus